HAMKA
Sedarkan engkau betapa pentingnya bayang-bayang dan keteduhan untuk hidupmu? Bukankah dalam perjalanan musafir yang jauh, apabila bertemu sebuah wadi yang banyak kayu-kayuan, kamu pun berteduh ke tempat itu untuk melepaskan lelah? Sedarkah engkau bahawa engkau sendiri pun khaimah untuk mencari keteduhan? Bahkan engkau mendirikan rumah untuk berteduh. Dengan bayang-bayang dan keteduhan engkau memulihkan kembali kekuatan yang telah hilang kerana teriknya panas.Dan matahari ialah dalil petanda satu-satunya daripada kejadian itu.
....................Tafsir al-Azhar..............
HAMKA
Maka orang-orang yang sudi membaca al-Quran dengan saksama dan faham akan keindahan bahasanya kerana bahasa al-Quran memang bahasa wahyu, maka merasailah betapa menaik, mendatar dan menurunnya gelora ombak ancaman dan pujukan Ilahi. Sejak daripada ancaman siksa neraka sampai kepada ajakan berfikir. Di situlah rahsia ajaran agama Islam yang sejati. Isinya ialah imbangan antara rayuan dan ancaman, kemurkaan diiringi kasih sayang, azab siksa dan persedian memberi ampun. Oleh sebab itu maka dalam hati seseorang mukmin terasalah raghaban (pengharapan) dan rahaban (kecemasan) atau khauf (rasa takut) atau rajaa (kerinduan)
..........Tafsir al-Azhar...............
Khairil Anwar
Sebuah Kamar
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!
Khairil Anwar
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Khairil Anwar
Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
HAMKA
Berani memberikan pelajaran tentang hidup, pada hal dia sendiri tidak berani masuk ke dalam gelanggang hidup.
HAMKA
Sikapnya angin-anginan. Kalau datang orang memuji-mujinya setinggi langit, kembang kempislah hidungnya kerana girang. Apa yang diminta kepadanya ketika itu akan dapat saja. Akan tetapi kalau hatinya sudah benci, mukanya berubah sekali. Kekusutan perasaan dan hawanya itu membayang kepada mukanya. Apabila dia marah, dirinya tidak dapat dikendalikannya. Dia tidak dapat menguasai dirinya sebab hawanya menjadi tuhannya.